Brasil dan Sejarah Dibalik Taktik Sang Raja Sepakbola Dunia

Brasil dan Sejarah Dibalik Taktik Sang Raja Sepakbola Dunia

Brasil dan Sejarah Dibalik Taktik Sang Raja Sepakbola Dunia

Daftarmaxbet.com – Brasil dan Sejarah Dibalik Taktik Sang Raja Sepakbola Dunia – Sejarah berkata bahwa Brasil adalah raja sepakbola. Tapi, sejarah juga menuliskan bahwa pada mula-mula, Brasil juga paling ketinggalan dalam urusan taktik.

Ya, dalam urusan sepakbola, Brasil memang negara adidaya. Lima trofi Piala Dunia yang mereka dapatkan tentu jadi bukti bagaimana kekuatan negara Amerika Latin ini tak tertandingi oleh negara-negara lain. Sebagai pemasok pemain-pemain sepakbola hebat, skuat timnas Brasil pun selalu dihuni pemain-pemain top Eropa yang punya skill mumpuni dan dibayar dengan rate gaji mahal.

Secara individu Brasil memang juara. Namun, sebagaimana dikatakan sebuah pameo terkenal, sepakbola bukanlah permainan individu. Sepakbola adalah soal kekompakan tim yang dipadukan dengan teknik dan taktik pelatih. Tentang bagaimana membuat satu tambah satu lebih dari dua.

Dan sejarah sepakbola berbicara bahwa Brasil terlambat dalam mengenal berbagai variasi taktik dan formasi. Bukan karena mereka bodoh dan tak mampu menerima ilmu sepakbola dari Eropa. Tapi ada sesuatu yang secara alamiah dimiliki oleh kultur Amerika latin yang berbeda dengan benua biru tersebut.

Filosofi ‘Jeitinho’ dalam Sepakbola Brasil

Dalam buku “O que faz o Brasil, Brasil?” Antropolog Brasil, Robert Da Matta menjelaskan sebuah kultur di Brasil bernama “jeitinho”. Secara verbatim, artinya adalah “jalan lain”.

Jeitinho ini yang selalu melekat dengan cara pikir masyarakat Brasil. Jeitinho memaksa orang untuk berfikir kreatif, penuh imajinasi, dan mengandalkan intuisi serta fleksibilitas saat menghadapi kondisi tak terduga, sulit, atau pelik.

Budaya ini sebenarnya lahir dari dominasi dan pengekangan yang dilakukan kaum proletar kulit putih lewat hukum dan aturan sepihak kepada kulit hitam. Karena itu, Jeintinho selalu identik dengan pembangkangan terhadap hukum, struktur, atau aturan.

“Cara hidup orang Brasil tidak sama dengan orang Eropa yang hidupnya sudah terjadwal selama satu tahun ke depan. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan dalam 15 menit ke depan,” adalah salah satu kutipan dari Socrates, sang kapten tim samba di Piala Dunia 1982.

Hukum adalah struktur eksternal dalam sebuah hubungan sosial di masyarakat. Ini berbeda dengan Brasil yang menjadikan kemampuan individu sebagai kunci hubungan sosial.

Tak heran jika kecenderungan masyarakat Brasil adalah individualistis. Dan sikap inilah yang membuat mereka menemukan jalan sendiri untuk menguasai situasi, serta memiliki kreativitas tinggi tapi juga sekaligus menimbulkan ketidakpercayaan pada kerja sama dengan orang lain.

Gilberto Freyre, seorang sosiolog tenar, dalam jurnalnya berjudul Futebol Brasileiro e Dança yang terbit pada tahun 1938 menjelaskan bahwa individualitas adalah sisi lain dalam sepakbola Brasil. Sifatnya yang spontan, penuh improvisasi, dan artistik amatlah kontras dengan gaya Eropa, terutama Inggris, yang lebih geometris, standar, dan seragam.

Brasil dan Sejarah Dibalik Taktik Sang Raja Sepakbola Dunia

“Sepakbola kami lahir dari kombinasi kedengkian, kelicikan, kecerdasan dan kelincahan, yang dipadukan dengan spontanitas individual. Semua itu terlihat dari bagaimana pola kami bermain-main dan mengumpan bola. Sebuah sentuhan tarian dan pemberontakan yang menjadi ciri khas gaya Brasil,” ucap Freyre.

Sebuah majalah olah raga Sao Paulo yang terbit tahun 1919 menerangkan cara pandang sepakbola Brasil terhadap perkembangan formasi 2-3-5 yang pada dekade itu sangat populer.

Dipaparkan bahwa dalam pendidikan di sekolah sepakbola Inggris, pemain akan cenderung membawa bola ke depan hingga sedekat mungkin dengan gawang lawan sebelum akhirnya mencetak gol. Di Brasil tidak demikian. Semua pemain berhak menembak dari manapun asal memiliki ketepatan yang akurat, karena buat apa jauh-jauh ke depan jika tak mencetak gol.

Hal inilah yang membuat kolektivitas barisan penyerangan, seperti yang lazim dilakukan di Inggris, tak betul-betul diperlukan. Dalam formasi klasik 2-3-5, penyerang yang berjumlah lima orang akan serempak menyerang. Dalam sistem di Brasil, hanya dua atau tiga pemain saja yang melepaskan diri untuk menyerang. Tapi, tentu saja dua–tiga orang ini memiliki kecepatan yang merusak, benar-benar tak terduga, dan mampu mengacaukan seluruh pertahanan lawan.

Untuk bermain Taruhan Judi Bola dapat dibaca panduan

CARA DAFTAR MAXBET

CARA BUAT AKUN MAXBET

Hal itu adalah anomali, mengingat Brasil pada masa itu memainkan sepakbola ofensif. Dalam memakai pola 2-3-5, hanya 3 orang (dua senter bek dan satu gelandang) yang murni bertahan, sementara lima orang akan diplot menyerang dan dua gelandang sayap didorong naik ke depan. Memfokuskan diri pada penyerangan, tak heran jika pertahanan tim pun lemah saat lawan menyerang.

Taktik menempatkan salah seorang bek sayap untuk murni bertahan, menurut Jonathan Wilson, adalah pengakuan pertama timnas Brasil tentang perlunya membangun struktur pertahanan.

Pada awal dekade 1930-an, ketika tim-tim Eropa mulai menggunakan formasi WM. Brasil masih tetap keukeuh memakai formasi ortodok 2-3-5 dengan ciri khas mengeksploitasi kekuatan individunya. “Secara individual, Brasil amatlah pintar.

Kita akan melihat taktik Brasil nantinya di Piala Dunia 2018, dimana regenerasi yang segar akan menjadi senjata baru, bagi Brasil di era yang baru.

CARA DAFTAR CASINO MAXBET

PERCAYAKAN TARUHAN BOLA DAN LIVE CASINO MAXBET ANDA DI

AGEN RESMI MAXBET

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *